BUKA AKSES MODAL untuk KELUARGA MISKIN BERBASIS MASJID

Budaya malu bisa menekan angka kemiskinan di tengah masyarakat. Lebih-lebih di Ranahminang masih memiliki adat dan budaya yang masih kental. Bagaimana format agar kemiskinan bisa dihapuskan dengan budaya malu?

“Kita mulai dengan membangkitkan kekerabatan yang sudah ada. Menata dan mengambil data base kemiskinan yang ada di tengah masyarakat. Khusus urang minang, keluarga, suku, jorong, nagari, adalah sesuatu yang penting bagi dirinya. Nah, kita akan lihat suku mana yang miskin itu, jorong mana, nagari mana,” ungkap Bupati Kabupaten Agam, Aristo Munandar, ketika koran ini berkunjung ke kediaman Komplek Wisma Lapai Jaya Blok E Padang, (10/12).

Aristo Munandar baru saja pulang dari Rapat Kerja Nasional Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) se-Indonesia di Medan, 7-8 Desember 2006. Di acara tersebut, Aristo mendapatkan penghargaan dari Pinbuk Award 2006 atas usaha Pemkab Agam usahanya dalam Pinbuk dan Baitul Mal at-Tanwil (BMT) di Kabupaten Agam.

“Budaya malu kita sangat tinggi. Jika dikatakan suku, nagari, jorong, apalagi keluarga dekat, termasuk orang miskin. Artinya, kita tidak memperhatikan keluarga kaum kerabat,” papar bupati yang menjabat dua periode ini.

Apa saja yang kebijakan bupati untuk mengangkat kaum papa? Ia memaparkan beberapa konsep pelayanan terhadap kaum papa yang memang sangat sedikit tersentuh oleh program pemerintah. “Mereka tidak dapat akses modal karena prosedur yang berlaku. Oleh karenanya, kita merubah prosedur. Prosedur kekeluargaaan,” paparnya.

Prosedur ini berbeda dengan peminjaman yang berdasarkan agunan. Hanya bermodalkan kepercayaan dan kekerabatan yang ada di tengah masyarakat dan jamaah masjid. Dari pengalaman di BMT, ini bisa berjalan dengan baik. Ke depan, tinggal lagi pengembangan dan pembinaan.

“Setelah saya cermati dari apa yang sudah dilakukan, turun ke bawah dan merasakan denyut masyarakat. Hasilnya, ternyata harus ada format baru agar orang miskin bisa diangkat menjadi keluarga pra sejahtera. Caranya, beri obat sesuai dengan penyakit. Data satu persatu. Tanya satu persatu. Tidak bisa digenerasilir,” ungkap bupati yang sering mendapat penghargaan nasional ini.

Pemkab Agam memodali pendataan ulang Rp350 juta. “Walau ada bias pada data, tetapi setiap program penanggulangan kemiskinan akan dicek ulang ke bawah. Penajaman data harus dilakukan. Kemudian, program harus disosialisasi dengan matang. Biarlah perencanaannya agak lama yang penting matang dari pada cepat nekad tanpa hasil,” tegasnya.

Gerakan yang sudah dilakukan seperti BMT memang mendapat tempat di hati masyarakat. Masjid sebagai basis ternyata berdampak positif terhadap pergerakan ekonomi dan silaturrahmi. “Inilah modal ke depan. Akan digelar raker agar semua paham bagaimana program pengentasan kemiskinan berbasis surau dan masjid akan mampu berjalan baik. Melibatkan ninik mamak, alim ulama, wali nagari, perantau. Pada gilirannya, rasa malu akan muncul ketika diketahui oleh perantau yang berhasil ternyata masih ada dunsanak mereka, anak kemanakan mereka yang masih butuh perhatian,” paparnya semangat.

Masjid dan surau akan menjadi posko penanggulangan dan diisi oleh pembina yang dilatih profesional. Memberi kesempatan bagi rapat suku, jamaah masjid dan perangkat nagari untuk mengumpulkan semua ide untuk mendapatkan celah usaha baru bagi anak kemanakan yang butuh bantuan. Legitimasi pencairan dana tidak perlu dilakukan secara konvensional bank tetapi cukup kepercayaan dan tanggung jawab ninik mamak setempat.

“Implikasi positifnya adalah, adat dan agama akan bergandengan melalui pola ekonomi,” jelas Aristo. Menguatkan hal ini, akan dibuat detail format pengawasan dan pembinaan dan evaluasi kepada Kelompok Usaha Bersama (KUBE). “Kalaulah demikian adanya, pikiran enterpreneushif akan muncul. Misalnya, satu KK, ia bisa apa dan maunya apa. Nah, sebatas itulah ia diberikan dengan kepastian jaminan ninik mamak dan pengawasan. Motivasi dan pembinaan. Nah, dinamika usaha akan hidup,” tuturnya.

Program Agam Mandiri, Agam Madani memang sudah dimulai dan memperlihatkan hasil. Penghargaan sebagai pusat pelayanan terbaik dan Pinbuk ini adalah bukti dari keseriusan dan kerja keras pria yang murah senyum ini. Tahun 2005, Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Agam mencapai 6.13 persen. Tahun 2004, 6,01 persen. Tahun 2003, 5,29 persen.

Pemikiran untuk peningkatan pendapatan masyarakat terus dilakukan. “Untuk produksi saya pikir tidak ada masalah lagi. Kini tinggal peningkatan mutu dan daya saing dengan cara mencari nilai tambah (value added). Beberapa produk unggulan usaha kecil sudah sangat dikenal dari Agam seperti dodol labu, dodol wartel, air tebu sudah mendapat sentuhan packaging yang baik,” tuturnya.

Sementara itu, aksi nyata untuk peningkatan ekonomi rakyat yang lain, diserahkan 32 kebijakan bupati ke kecamatan. Hal ini dilakukan demi efesiensi waktu dan memberi ruang kepada camat untuk mendekatkan program dengan kebutuhan masyarakat.

Seperti diberitakan koran ini, Sabtu (9/12), Aristo bersama kepala daerah lain, seperti Bupati Langkat (Sumut), Bupati Tanah Bumbu (Kalsel), Bupati Tanjung Balai (Kepri), Bupati Tebing Tinggi (Sumut), dan Bupati Pekalongan (Jateng) mendapatkan Pinbuk Award 2006. Sementara di tingkat menteri, penghargaan diberikan kepada Menteri Sosial Bachtiar Chamsah, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadarma Ali, Dirut Bank Muamalat Syaefudin A, dan mantan Gubernur Sumut Alm. T. Rizal Nurdin.

Penghargaan “Pinbuk Award 2006” ini diserahkan oleh Ketua Pinbuk Pusat, Prof.Dr. Ir. M. Amin Aziz, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pinbuk se-Indonesia, di Medan. Dalam Rakernas yang dibuka Deputi Bidang Pengentasan Kemiskinan Menko Kesra DR. Sujana Rohiyat, dan berlangsung tiga hari itu, hadir para kepala daerah se-Indonesia, dan sejumlah pejabat depertemen terkait.

Dikatakan Aristo, bagaimana pun, tugas pemerintah adalah mensejahterakan masyarakat. Tetapi, fenomena yang menyakitkan ketika kenyataan bahwa, dengan digulirkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT), ternyata menjadi titik balik, bahwa angka keluarga miskin membengkak. Kabupaten Agam mengalami hal tersebut, dimana KK miskin tahun 2004 bisa ditekan hingga 10.566 KK waktu ada pendataan untuk BLT, mencapai 23.661 KK.

Padahal program untuk mengentas kemiskinan sudah dijalani. “Berangkat dari kenyataan inilah, kita harus tegas dalam aksi nyata. Bagaimana pendekatan kekerabatan yang menjadi modal penting dalam adat budaya kita bisa dilakukan. Saya pikir akan muncul pemikiran baru dan aksi baru dari ide-ide seperti ini. Kini tinggal pemantapan dan pelaksanaan,” jelas Aristo.*

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s